Dartini

Pengawas SMP di Dinas pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah....

Selengkapnya

Perlu diedukasi

Perbincangan tentang Unemployment benefit menjadi hangat karena kekhawatiran akan menimbulkan ekses ketagihan dari para penerima. Program ini memang belum diluncurkan alias belum ada penerima yang merasakannya tetapi Bapak Menteri Tenaga Kerja RI Bapak M. Hanif Dhahiri kemarin Sabtu, tanggal 15 April 2018 sudah menyampaikannya pada seminar Nasional Pendidikan Vokasi dan Ruang Ketenagakerjaan di Indonesia di Pendopo Dipokusumo, Kabupaten Purbalingga. Dalam kesempatan tersebut Menaker menyampaikan dua kebijakan ketenagakerjaan yang akan dijalankannya yaitu Skill Development Fund (SDF) dan Unemployment Benefit (UB).

Skill Development fund adalah skema dana pengembangan pelatihan ketrampilan kerja yang menjadi satu paket dengan program unemployment benefit yaitu tunjangan sosial bagi korban PHK. Rencananya jika terjadi pengangguran akibat PHK, maka korbannya akan diberikan pelatihan ketrampilan yang dibiayai pemerintah, selama mengikuti pelatihan maka keluarganya mendapatkan jaminan sosial berupa biaya hidup juga selama yang bersangkutan mencari pekerjaan setelah pelatihan. Dengan demikian pekerja tidak perlu takut jika perusahaannya melakukan PHK. Dengan bekal ketrampilan yang baru, pekerja korban PHK dapat mencari pekerjaan baru ataupun berwiraswasta.

Menurut Pak Menteri salah satu masalah ketenagakerjaan di indonesia adalah adanya 60% pekerja di Indonesia yang berpendidikan rendah. Mereka bekerja di sektor informal atau di sektor formal pada level terbawah, di dalam negeri maupun di luar negeri. Karena pendidikannya yang rendah, mereka tidak memiliki ketrampilan yang baik (unskill). Dalam keadaan tidak memiliki ketrampilan pekerja jenis akan sangat takut jika terkena PHK, bagi mereka PHK berarti kiamat, artinya berakhirnya kehidupan mereka karena dengan menerima PHK berarti mereka menjadi pengangguran dan tidak berpenghasilan. Oleh karenanya mereka berusaha agar tidak kena PHK sehingga posisi twar mereka sangat lemah. Agar tenaga kerja Indonesia tidak takut lagi di PHK, pemerintah rencananya akan menggulirkan program SDF dan UB ini.

Yang menjadipemikiran kemudian adalah jika program ini dilakukan dikhawatirkan efek ketagihan bagi penerimanya. Saya dan teman teman sambil berseloroh membayangkan penerima SDF dan UB akan merasa nyaman dengan jaminan sosial sehingga mereka akan berkali kali minta di PHK. Bahkan mungkin menular pekerja lain. Apalagi jika jaminan sosialnya lebih tinggi dari penghasilannya sebagai pekerja. Bagaimanapun kita harus mengingat mental sebagian masyarakat kita yang jika menerima bantuan tunai akan ketagihan. Bukannya kemudian mereka berusaha mandiri dan berusaha berhenti dari statusnya sebagai penerima bantuan. Bahkan dibeberapa kasus ada yang sebetulnya bukan yang seharusnya menerima bantuan ternyata menjadi penerima bantuan. Atau mungkin kita masih ingat dulu ada beberapa desa yang ketika sebagian masyarakat miskin menerima bantuan beras yang terkenal dengan nama raskin (beras miskin), ternyata anggota masyarakat yang lain iri, sehingga kemudian Pak RT membagi rata kepada masyarakat yang mau menerimanya (pengalaman saya hanya sedikit yang tidak menerima). Atau pembagian tabung gas melon.

Kira kira bagaimana ya mengatasi hal ini? Ketika kekhawatiran itu terlontar dalam pperbincangan ngalor ngidul, salah satu teman saya bilang : “Itu`sangat bisa diterapkan, asal masuarakat diedukasi dulu, jadi masyarakat dididik untuk malu menjadi penerima bantuan, bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah”, begitu kata Bambang teman saya. Saya sebetulnya sangat setuju tapi di tengah budaya yang terlanjur menganggap adil kalau dibagi rata. Sementara juga masih berkembang yang bekerja dengan baik jika ditunggui atasan, jika tidak mereka hanya akan menghabiskan waktu. Yang seperti ini jika mendapat jaminan sosial bukannya malu dan berusaha keras untuk bangkit dan membangun hidupnya tanpa bantuan tapi malah merasa tenang dan santai dengan hidup dari bantuan. Ini yang perlu diedukasi ! Ini Pe Er kita semua bagaimana menjadikan nilai nilai kemandirian dan malu jika menjadi beban orang lain dapat terintegrasi dalam pendidikan yang kita lakukan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Mantap bu.

17 Apr
Balas

Maturnuwun bpk

18 Apr

Andai saja semua orang berdaya? Ups guru lah yg bertanggungjawab hehehe

18 Apr
Balas

Andai saja.....

18 Apr

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali